Pilpres Di Ubun Ubun politisi

DOK PRIBADI Umbu TW Pariangu, Dosen FISIP Universitas Nusa Cendana, Kupang
Bagikan Artikel Ini.....

wartainfo.id – Meskipun kontestasi Pilpres masih 3 tahun lagi, ada gelagat para politikus dan pejabat publik yang tengah digadang-gadang maju dalam pemilihan presiden mulai memoles diri.

Mereka mulai terlihat sibuk dalam sejumlah aktivitas elektoral, melakukan sowan ke sesama elite politik (ketua partai) berbalut safari atau misi persahabat­an politik.

Bacaan Lainnya

Demi terkesan populis, pertemuan tersebut dibaluti alasan normatif: membicarakan persoalan bangsa dan diklaim jauh dari agenda Pemilihan Presiden 2024.

Meskipun sulit untuk menampik, ada aroma kontestasi pilpres yang mulai meruap dari kongko politik dimaksud. Buktinya di saat bersamaan, elite partai lainnya berbicara soal penjajakan koalisi, soal kecocokan ideologi, yang kemudian diamplifikasi oleh berbagai media lewat analisis dan penerawangan para pengamat politik, lengkap dengan bumbu-bumbu simulasi figur capres-cawapres.

Media sosial pun tak luput menjadi medan tempur para politikus untuk menyosialisasikan diri dan program, plus dengan penampilan dan kerja militan tim sukses, para relawan, yang terus mentransmisi perkembangan kerja politik jagoan politiknya.

Di darat, wajah manis dan genit para ‘calon presiden’ itu terlihat di berbagai baliho di titik-titik strategis untuk mencuri lirikan rakyat. Tak terbendung Tampaknya, hasrat politik para politikus (di antaranya sebagai ketua partai, kepala daerah, menteri, dll) menjelang Pemilu dan Pilpres 2024 sudah diubun-ubun dan tak terbendung.

Sayangnya, semangat politik tersebut terlampau prematur dan niretis dalam konteks kesejatian politik. Di tengah laju pandemi covid-19 yang belum berhenti, keadaan masyarakat yang terus dibekap keresah­an ekonomi akibat pandemi, dunia pendidikan yang ikut terdampak pandemi, yang tentu saja sangat berpengaruh bagi masa depan mutu sumber daya manusia Indonesia dalam persaingan global, rakyat justru dipertontonkan atraksi dan akrobat panggung politisi yang haus simpati publik.

Menurut Kementerian Kesehatan sudah ada 15 kasus varian baru covid-19 yang teridentifikasi di wilayah DKI Jakarta hingga 6 Juni 2021. Gelombang mudik ikut menciptakan lonjakan klaster covid-19 nyaris di setiap kabupaten, yakni Jawa Barat menjadi wilayah klaster tertinggi, disusul Jawa Tengah. Munculnya varian baru covid-19 ikut membebani upaya pemerintah daerah dan tenaga kesehatan dalam meredam pandemi global tersebut.

Fakta di atas mengindikasikan masih lemahnya manajemen penanganan pandemi, khususnya oleh para elite pemimpin di daerah. Kita bisa saja berasumsi liar bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan lemahnya kemampuan responsivitas mereka dalam memahami situasi urgen dan kritis yang berdampak langsung kepada nasib rakyat.

Keadaan maskrokopis efek pandemik di berbagai daerah, mestinya, menjadi sumber penguatan penginderaan dan sensitivitas para elite politik, khususnya kepala daerah untuk bergerak membuat kebijakan dan aksi konkret untuk meredam eskalasi wabah secara lebih efektif.

Sumber: mediaindonesia.com


Bagikan Artikel Ini.....

Pos terkait