Kajian BPOM Menyetujui Pemberian Vaksin Sinovac Untuk Anak-Anak, Simak Panduannya

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan panduan atau petunjuk pemberian vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac maupun Sinovac bulk yang diolah PT Bio Farma (Persero) menjadi CoronaVac kepada anak berusia 12-17 tahun di Indonesia.

Wartainfo.id – Pemberian Vaksin Sinovac untuk anak 12-17 tahun, Keputusan ini diambil berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh BPOM bersama dengan ITAGI serta IDAI,” tulis BPOM dalam unggahan di akun instagram resmi @bpom_ri yang dikutip Minggu, 4 Juli 2021.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan panduan atau petunjuk pemberian vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac maupun Sinovac bulk yang diolah PT Bio Farma (Persero) menjadi CoronaVac kepada anak berusia 12-17 tahun di Indonesia.

Petunjuk pemberian itu tertuang dalam dokumen fact sheet yang dapat diunduh di bit.ly/factsheet-vaksin-anak. Tak hanya pada anak, panduan tersebut juga berisi informasi pemberian vaksin pada usia 18-59 tahun serta warga lanjut usia (lansia).

Bacaan Lainnya
BACA JUGA :  FSPNI Dorong Polri Jaga Harkamtibmas dan Toleransi

BPOM menyetujui penggunaan vaksin covid-19 produksi Sinovac/PT. Bio Far,a untuk anak usia 12-17 tahun”.

Lebih lanjut, dalam panduan itu juga tertulis untuk vaksinasi pada anak-anak dan remaja, jadwal penyuntikan adalah 2 dosis dengan interval 4 minggu (0 dan 28 hari), masing-masing dosis 0.5 mL. Rute pemberian yang dianjurkan adalah injeksi intramuskular pada otot deltoid.

BPOM selanjutnya juga memaparkan hasil uji klinis fase 1 dan 2 vaksin Sinovac di China untuk vaksinasi pada anak berusia 12-17 tahun. Sebanyak 550 subjek anak yang menjadi relawan subjek mengalami efek samping vaksin yang sifatnya ringan hingga sedang. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terkait dengan pemberian vaksin tersebut.

BACA JUGA :  Usai Ke Bali, Bunga Citra Lestari (BCL) Disebut Positif COVID-19, Begini Kronologinya

Nyeri di tempat suntikan adalah efek samping yang paling sering dilaporkan. Hasil analisis subgroup berdasarkan kelompok usia menunjukkan efek samping lebih tinggi pada kelompok umur 12 hingga 17 tahun dibandingkan dengan kelompok umur 3 hingga 5 dan 6 hingga 11 tahun.