Apalagi kata Anwar Hafid, setelah era desentralisasi berubah di tahun 2014 lalu, jabatan gubernur tidak lagi seperti dulu. Gubernur sekarang adalah wakil pemerintah pusat di daerah. Maka ketika ada ide yang mengatakan bahwa sebaiknya gubernur itu dihapus saja dan cukup ditunjuk oleh presiden, saya kemudian merenung dan juga berfikir ada juga benarnya.
Mengapa demikian, karena memang gubernur itu adalah sebuah kelompok kecil yang tidak punya penduduk dan wilayah.
“Yang punya rakyat dan wilayah itu adalah bupati dan walikota,” cetusnya.
Olehnya itu kata Anwar Hafid, dengan semangat kebersamaan dan kerjasama kita ke depan, maka Insya Allah, kita punya target yang besar, bagaimana seorang pemerintah provinsi melayani pemerintah kabupaten, bukan sebaliknya.
Berikutnya, kata Anwar Hafid adalah nilai keunggulan. Inilah nilai yang utama yang harus diperjuangkan di Provinsi 1000 megalit ini.
” Sulteng ini daerah yang unggul dalam semua sektor. Kita punya tambang, kita punya pertanian, kita punya lautan. Kita punya dua teluk, Teluk Tolo dan Tomini. dengan potensi yang cukup besar. Jika kita angkat keunggulan-keunggulan ini, Insya Allah Sulteng akan bergerak maju, terdepan di Indonesia,” pungkas Anwar Hafid.

