Kisah Longki dari Seorang Sopir Jadi Gubernur

Longki Djanggola

Dari pernikahannya dengan Zalzulmida, lahirlah Richard Arnaldo Djanggola dan Rico Andi Tjatjo Djanggola.

Selama memegang jabatan membangun relasi positif dan terbuka dengan para pihak adalah keharusan bagi Longki. Ia membangun jejaring yang memudahkan dan mendukung pekerjaannya.

Dari Yan Kaleb ia ingat petuah; “Jadi pemimpin itu harus punya kematangan, emosional, sosial dan seksologi.” Menurut Yan, semua harus dikontrol. Menjadi pemimpin itu tidak boleh sembarangan agar bisa punya pengaruh dan wibawa.

Dalam menentukan langkah-langkah politiknya, Longki selalu mengajak istri dan anak-anaknya untuk berdiskusi. Sejak awal hal ini sudah ditanamkan dalam keluarganya.

“Untuk keputusan apapun, saya selalu mengajak keluarga untuk diskusi. Anak-anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ruang diskusi dengan keluarga itu penting untuk menumbuhkan kesepahaman,” ungkap dia.

BACA JUGA :  Jika Terpilih Jadi Bupati Parigi Moutong, M. Nizar Rahmatu Janji Akan Ngator Di Desa

Dalam urusan sosial kemasyarakatan, bagi Longki penting baginya untuk menumbuhkan sikap kesetaraan dan persamaan hak.

“Jangah terjebak protokoler bila berhubungan dengan masyarakat. Jangan kaku. Jangan punya niat menyulitkan orang lain. Bila kita membantu orang lain haruslah ikhlas dan tulus,” ujar Longki membagi kiat hidupnya.

Sampai di sini, kita pun maklum soal prinsip Longki; Jalan hidup itu sebagian sudah diatur yang Kuasa, lalu sebagian harus direncanakan dan dipersiapkan. BOB