Dengan demikian tambah Armin, untuk pengelolaan serta pertanggungjawaban dana PON Aceh-Sumut, bukan lagi menjadi kewenangan KONI Sulteng. Mulai dari urusan Puslatda, menyangkut peralatan 31 cabang olahraga, honorarium atlet, pelatih, asisten pelatih, mekanik dan official Termasuk perihal pendanaan pemberangkatan kontingen ke Aceh- Medan serta pembayaran akomodasi kontingen kepada PB PON.
” KONI Sulteng hanya bertanggungjawab terhadap penggunaan dana rutin Kesekretariatan,” tandasnya.
Meski demikian kata Armin, dua tenaga IT KONI Sulten akan tetap melakukan pendataan melalui entry by name ke PB PON baik itu atlet, pelatih maupun official yang masuk dalam kontingen Sulteng di PON Aceh-Sumut September 2024 mendatang.
Apalagi menurutnya, harus diakui bahwa apa yang diraih atlet-atlet selama ini, mulai dari capaian prestasi di PON XX Papua, hingga meloloskan 31 cabang olahraga di PON XXI 2024 melalui babak kualifikasi, tidak lepas dari upaya dan kerja keras KONI Sulteng sebagai induk cabor dengan berbagai pendekatan. Karena bagi KONI di setiap event olahraga ada pertaruhan harkat, martabat dan harga diri daerah, baik meraih prestasi maupun menciptakan sejarah baru buat Negeri Seribu Megalit Provinsi Sulteng.
Armin juga berharap bahwa wacana menor yang selama ini berkembang sebaiknya disudahi. Karena saat ini Satgas PON dan seluruh atlet tengah fokus berlatih mempersiapkan diri guna mewujudkan program bapak Tadulako Sulteng Rusdy Mastura menuju Sulteng Emas 2024.

