Olahraga ini katanya sebenarnya sangat sesuai dengan kultur kehidupan masyarakat Sulteng.
Tekniknya bisa dikatakan menyerupai permainan kelereng, hanya saja bola yang dipakai terbuat dari kayu.
“Petanque tidak ada pengelompokan usia, biayanya murah, dan tekniknya sangat sederhana, sehingga cocok sekali dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Baca juga :
Porprov Banggai Awal Pintu Masuk Program Sulteng Emas 2024
Sementara Sekum Pengprov FOPI Sulteng Dr Humaidi mengaku sesungguhnya kepengurusan Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) telah terbentuk di 10 Kabupaten/Kota di Sulteng. Bahkan atlet-atlet Sulteng beberapa kali mengikuti berbagain event Nasional.
” Jika saat ini Petanque kembali menggeliat dan diminati warga, ini sungguh luar biasa. Tidak tertutup kemungkinan akan lahir talenta-talenta baru yang bisa mengukir prestasi bagi daerah ini,” kata Humaidi.
FOPI juga katanya, tengah mempersiapkan
diri guna mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) bulan November yang akan dilaksanakan di kabupaten Banggai.
” Di PORPROV IX Banggai, petanque bukan lagi eksebisi namun telah dipertandingkan dan ada perebutan medali emas,” tandasnya.

