Coca Cola Merugi Rp 57 T, Setelah Insiden Ronaldo Singkirkan Minuman Bersoda Saat Konfrensi Pers

Insiden Saat Ronaldo Geser Coca Cola dan Memilih Air Mineral

“Jadi perusahaan itu jangan Pede banget meskipun sudah besar, jadi market leader, tapi pada kenyataannya semua kembali kepada investor dan trader. Kebetulan saat ini peran dari sentimen itu memberikan dampak pada harga saham,” sambungnya lagi.

Kemudian hal kedua, kata Lucky Bayu, seiring berkembangnya zaman pengaruh influencer menjadi panting. Dalam kasus ini, Coca-Cola sebenarnya tidak melakukan tindakan negatif, namun karena influence maka hal itu menjadi perhatian.

“Pesan moralnya adalah para pelaku transaksi harus melihat, siapa sih yang menjadi influence, apakah yang menjadi influence itu benar-benar relevan terhadap keadaannya,” kata dia.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA :  Satgas PON Sulteng Kembali Menerima Dana Hibah KONI Rp 3,4 Miliar

Yang terakhir adalah pelaku pasar diharapkan memperhatikan berita-berita atau melihat nilai perusahaan yang sebenarnya (fundamental perusahaan) sebelum mengambil keputusan, ketimbang memperhatikan sentimen yang sifatnya hanya sesaat.

“Itu gara-gara lihat Ronaldo, orang yang beli saham Coca-Cola bisa langsung jual, padahal cuma digeser Ronaldo. Nah, selesai liga bisa saja itu Coca-Cola ditaruh lagi pada press confference. Bisa jadi harga saham Coca-Cola naik lagi padahal sudah terlanjur dijual. Jadi kalau mau, betul-betul diperhatikan saja nilai perusahaan (fundamental),” pungkasnya.