“Saya tertarik mengumpulkan karena warnanya, warna-warni,” ujarnya, Selasa (29/6/2021).
Bukan kali ini Halid mengumpulkan barang yang tidak terpakai. Ia kerap mengoleksi benda-benda yang dipulungnya dari jalan dan berkreasi membuat sesuatu dari benda-benda yang ditemukannya. Cara ini membuatnya memperoleh uang untuk membantu ibunya membesarkan adik-adiknya.
Gambaran tentang Gorontalo juga terlihat dari lukisan berjudul Anak Pulau Basa karya Jemmy Malewa. Lukisan bergaya realis itu menampilkan sosok anak di teras rumah dikelilingi air.

Banyak yang berpikir pulau basa adalah nama pulau. Tetapi ternyata bukan. Anak pulau basa yang dimaksud adalah anak pulau basah yang merujuk pada Gorontalo yang lokasinya diapit laut. Sebutan beberapa kata luluh “h” ketika orang Gorontalo menyebut, basah menjadi basa.
Ada pula karya perupa asal Bali yang juga tinggal di Gorontalo, Komang Wastra. Judulnya, Spirit Dayango. Lukisan ini menggambarkan tradisi dayango.
Dayango adalah salah satu ritual memanggil roh-roh arwah untuk dijadikan mediator untuk menyembuhkan orang sakit, yang penyembuhannya dilakukan dengan gerakan-gerakan dan teriakan.
Dayango merupakan ritual adat asli yang sampai sekarang belum hilang dandilakukan oleh suku Gorontalo.
Setidaknya ada 17 perupa Gorontalo yang memamerkan karyanya di RuangDalam Art House pada 21 sampai 30 Juni 2021.
Mereka yakni, Akbar Abdullah, Arnold Ahmad, Halid Mustapa, Iwan Yusuf, Jaki Sore, Jamal MA, Jemmy Malewa, Komang Wastra,Mohammad Rivai Katili, Pipin Idris, Riden Baruadi, Rio Kony, Rizal Misilu, Shandi Igirisa, Suleman Dangkua, Syam Terrajana, dan Yayat Gokilz Karikatur. Mereka tergabung dalam komunitas perupa Tupalo di Gorontalo yang sudah terbentuk sejak 2013.

